Home Internasional Ringan tapi Tidak Sembuh-sembuh Ahli Medis Selidiki Gejala Baru Virus Corona pada Sejumlah Pasien

Ringan tapi Tidak Sembuh-sembuh Ahli Medis Selidiki Gejala Baru Virus Corona pada Sejumlah Pasien

by Nazira Khasanah

Pusat medis utama di Amerika Serikat tengah mencari tahu mengapa beberapa pasien Covid 19 terus memiliki gejala selama berminggu minggu setelah dinyatakan positif terjangkit virus corona. Seperti yang dilansir NBC News, Amy Watson (47) adalah salah satu pasien yang mengalami kondisi seperti itu. Ia sudah mengalami demam lebih dari 100 hari.

"Ini menjengkelkan," ujar Watson yang berprofesi sebagai guru TK di Portland, Oregon. Sejak pertengahan Maret, suhu badannya naik 37 28 derajat Celsius hampir setiap hari setelah petang. Amy Watson dinyatakan positif Covid 19 pada bulan April, sebulan setelah merasakan gejala seperti demam, batuk, dan kelelahan.

Kini, gejala itu masih ada tapi melemah. Ia juga mengalami sensasi kulit terbakar. Penyakit Watson tidak cukup parah untuk dibawa ke rumah sakit.

Ia hanya merawat diri sendiri di rumah dengan konsultasi dokter lewat telepon. Watson masih memiliki gejala, tapi dalam kurun waktu yang sangat lama. Dokter memiliki beberapa teori atas kondisinya.

David Putrino, seorang ahli terapi fisik dan asisten profesor di Sistem Kesehatan Mount Sinai di New York City, mulai mengawasi pasien Covid 19 yang mengalami gejala ringan, tapi berkepanjangan yang dirawat di rumah. "Apa yang kita mencoba mengerti yaitu seperti apakah gejala baru ini, bagaimana kami mengelolanya dan bagaimana kami bisa membantu mereka menjalani hari hari mererka," ujarnya. Dr. Jessica Dine, seorang dokter paru paru di Penn Medicine di Philadelphia, mengatakan ia mulai memperhatikan kelompok pasien COVID 19 yang gejalanya berlangsung cukup lama.

Berkat layanan COVID Watch, sebuah layanan SMS yang melakukan check in setiap hari dengan pasien Covid 19 di rumah, Dr. Jessica Dine menyadari ada sejumlah pasien yang gejalanya tak kunjung hilang. Dine kini bekerja sama dengan pasien pasien tersebut agar lebih memahami gajala penyakit mereka. Dine dan timnya mulai dengan mengesampingkan penyebab jelas dari gejala jangka panjang.

"Hal pertama yang saya lakukan adalah memastikan tidak ada sesuatu yang baru terjadi, agar kami tidak melewatkan sesuatu," kata Dine, seperti infeksi sekunder, komplikasi virus atau efek samping dari perawatan. Jika Dine dan timnya dapat mengesampingkan penyebab lain, mereka memiliki dua hipotesis untuk apa yang terjadi. Yang pertama adalah kemungkinan virus masih berada di suatu tempat di dalam tubuh, tidak terdeteksi melalui pengujian.

Yang kedua adalah bahwa virus hilang dari tubuh tetapi pasien mengalami apa yang disebut sebagai sindrom peradangan pasca virus, di mana sistem kekebalan tubuh masih "meningkat" bahkan setelah virus hilang. "Yang kami butuhkan adalah penelitian lebih lanjut untuk menjelaskan dari mana gejalanya berasal," kata Dine. Satu teori adalah bahwa peradangan yang dipicu oleh COVID 19 dapat merusak sistem saraf otonom, yang memengaruhi fungsi fungsi tubuh seperti pencernaan, berkeringat, tidur, detak jantung, dan tekanan darah.

Dr. Mitchell Miglis, ahli saraf di Universitas Stanford, menganut teori ini. Ia mengatakan nampaknya bagi sebagian orang, "tubuhnya masih rusak" bahkan ketika virusnya sudah lama hilang. "Butuh waktu sangat lama untuk pulih sepenuhnya," katanya.

Miglis menambahkan bahwa masih terlalu dini untuk mengetahui apakah kondisi pasien pasien seperti itu akan membaik atau apakah gejalanya akan berlanjut sebagai penyakit kronis. Miglis dan timnya di Stanford mulai mengembangkan registri untuk melacak pasien COVID 19 dengan gejala jangka panjang dari waktu ke waktu. Akan tetapi, tidak ada terapi khusus untuk jenis peradangan jangka panjang yang dicurigai dokter tersebut.

Yang ada hanyalah obat obatan untuk meringankan gejala seperti batuk atau demam. Dine mengatakan tidak ada pengobatan yang baik untuk salah satu gejela COVID 19 yang paling melemahkan, yaitu kelelahan ekstrem. Putrino, dari Mount Sinai, juga mulai mengembangkan semacam protokol untuk orang orang yang gejalanya, seperti Amy Watson, yang berlangsung selama berminggu minggu.

Rencana itu bersifat individual bagi, tetapi biasanya melibatkan cara yang sangat spesifik untuk melatih tubuh untuk mengimbangi fungsi bawah sadar. Banyak pasien diberikan jadwal olahraga, perbaikan pola tidur dan pedoman nutrisi. Ahli diet Mount Sinai Adena Neglia bekerja dengan Putrino pada aspek nutrisi dari protokol.

"Selama masa stres dan kecemasan, beberapa orang mungkin beralih ke makanan, sementara yang lain berpaling dari makanan," kata Neglia, menambahkan bahwa makanan penting untuk mendukung sistem kekebalan tubuh yang sehat. Para ahli di tempat lain juga menyuarakan pedoman untuk fokus pada perilaku yang membuat sehat. "Makan dengan benar dan tetap terhidrasi, terutama selama musim panas ini," kata Dr Gary LeRoy, presiden American Academy of Family Physicians.

LeRoy, seorang dokter praktek di East Dayton Health Clinic di Dayton, Ohio, mengatakan ia belum menemukan pasien COVID 19 dengan gejala jangka panjang. Tetapi ia telah menasihati beberapa pasien yang mengatakan mereka merasa kelelahan yang berlarut larut yang mencari cara bagaimana mendapatkan kembali energi mereka. Sementara itu, Watson telah menemukan sedikit kelegaan dari gejala gejalanya dengan cara istirahat.

Ia ingin pasien COVID 19 lainnya dengan gejala yang serupa dengannya tahu bahwa mereka tidak sendirian. "Kamu tidak gila. Gejala gejala ini nyata," kata Watson. "Jika Anda dokter Anda tidak mendengarkan Anda, cari yang lain."

You may also like

Leave a Comment