Home Bisnis Menteri Budi Karya Angkat Bicara Pecah Kongsi Sriwijaya Air-Citilink

Menteri Budi Karya Angkat Bicara Pecah Kongsi Sriwijaya Air-Citilink

by Nazira Khasanah

Menteri Perhubungan RI, Budi Karya Sumadi berkomentar terkait pecah kongsi PT Sriwijaya Air dengan PT Citilink Indonesia anggota Grup Garuda Indonesia. ”Pertama, kami menghargai adanya suatu settlement karena itu hak masing masing korporasi. Kedua berkaitan operasional akan kita jaga agar proses operasinal ini safety artinya perusahaan (maskapai) yang menjalani syarat safety ini harus dijalani dan terus kita pantau,” ujar Menhub di Jakarta, Senin (11/11/2019). Menhub menolak memberi pernyataan lebih jauh perihal utang antara kedua korporasi tersebut.

“Kalau berkaitan utang dan sebagainya itu akan kami lihat dilaporan keuangan, tentu ini domainnya di kementerian lain. Saya tidak berwenang untuk menjawab itu,” tambahnya. Direktur Pemeliharaan dan Layanan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) Iwan Joeniarto sebelumnya memastikan Sriwijaya Air tidak lagi menjadi bagian dari Garusa Indonesia Group. "Karena keadaan dan beberapa hal yang belum diselesaikan oleh kedua belah pihak, kami menyesal memberi tahu Anda bahwa Sriwijaya sedang melanjutkan bisnis sendiri," ujar Direktur Pemeliharaan dan Layanan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) Iwan Joeniarto.

Hubungan antara Garuda Indonesia Group dan Sriwijaya Group akan dilanjutkan pada basis bisnis ke bisnis. Pada September lalu Garuda Indonesia dan Sriwijaya geger soal pencopotan direksi di dalam tubuh Sriwijaya, di mana direksi tersebut merupakan orang Garuda Indonesia. Perombakan ini dilakukan tanpa persetujuan GIAA. Berdasarkan keputusan rapat dewan komisaris dan direksi 9 September 2019, tiga orang yang dicopot adalah Direktur Utama Sriwijaya Joseph Adrian Saul, Direktur Human Capital & Service Sriwijaya Harkandri M Dahler, dan Direktur Komersial Sriwijaya Joseph K Tendean.

Namun sebenarnya keduanya telah rujuk pada Selasa (1/10/2019), KSM tersebut akhirnya dilakukan kembali. KSM diambil sebagai langkah untuk menyehatkan Sriwijaya Air Group karena terbelit utang dengan tiga perusahaan, yakni BNI, Pertamina dan GMFI. Utang Sriwijaya kepada GMFI tercatat mencapai Rp 810 miliar.

GIAA pun menempatkan orang orangnya di Sriwijaya Air untuk membantu mengelola maskapai ini. Pada Kamis (26/9/2019) manajemen GIAA menyebutkan Sriwijaya Air Group telah mampu mencicil utang hingga Rp 430 miliar.

You may also like

Leave a Comment