Home Metropolitan ‘Kurang Fokus’ Bergantung Pada Terkomsel hingga Punya Kampus Erick Thohir Sindir Telkom

‘Kurang Fokus’ Bergantung Pada Terkomsel hingga Punya Kampus Erick Thohir Sindir Telkom

by Nazira Khasanah

Masih dalam rangka bersih bersih Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir kini menyoroti PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM). Menurut Erick Thohir, gaya bisnis Telkom belum mengikuti perkembangan zaman. Bahkan laba dari Telkom justru lebih banyak disumbang dari anak usahanya yakni PT Telkomsel.

Laba yang didapat oleh Telkom yakni 70 persen berasal dari Telkomsel. Kendari kontribusi laba Telkomsel sangat besar, Telkom masih harus berbagi dengan Singapore Telecom atau Singtel. Singtel sendiri juga merupakan pemegang saham Terlkomsel.

Sedangkan menurut Wakil Menteri BUMN Budi Gunadi Sadikin, Telkom merupakan perusahaan negara yang tumbuh stagnan. Budi mencotohkan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk atau Telkom sebagai salah satu contoh perusahaan negara yang tumbuh stagnan. Pasalnya, meski perusahaan telekomunikasi pelat merah tersebut mampu mencatatkan laba yang besar, namun pertumbuhan pendapatan Telkom dinilai stagnan.

Bukan hanya itu, margin antara EBITDA atau laba perusahaan sebelum dikurangi bunga utang dan pajak terutang yang harus dibayarkan kepada pemerintah dengan laba yang terus berkurang. Sementara itu, pada saat yang bersamaan anggaran belanja perusahaan atau capex terus tumbuh. "Telkom Indonesia, perusahaan besar profit di atas Rp 20 triliun, tapi revenue nya flattening, EBITDA margin decreasing, capex nya untuk 3G, 4G, 5G, 6G increasing," ujarnya di Jakarta, Selasa (11/2/2020). Terkait gaya bisnis Telkomsel yang belum mengikuti perkembangan zaman, Erick Thohir pun melemparkan sindirannya.

Sejak menjabat sebagai Menteri BUMN, Erick Thohir mengkaji beberapa model bisnis dari sejumlah perusahaan pelat merah. Termasuk Telkom yang saat ini tengah disorot oleh Erick Thohir. Menurut Erick Thohir, meski sebagai BUMN besar dengan sumber daya mumpuni, Telkom dinilainya kurang banyak berinovasi menggenjot pendapatan dari segmen lain seperti data cloud di dalam negeri yang malah banyak digarap perusahaan asing.

“Enak sih Telkom Telkomsel dividen revenue digabung hampir 70 persen, mendingan enggak ada Telkom. Langsung aja Telkomsel ke BUMN, dividennya jelas,” ujar Erick di Jakarta, Rabu (12/2/2020). Erick menjelaskan, seharusnya saat ini Telkom mulai serius menggarap potensi bisnis di ranah big data. Sebab, bisnis tersebut saat ini masih dikuasai oleh perusahaan multinasional.

“Makanya kita mau Telkom berubah ke arah salah satunya ke database, big data, cloud, masa cloud nya dipegang Alicloud. Masa database kita diambil negara lain,” kata Erick. Atas dasar itu, Erick saat ini tengah mengkaji beberapa model bisnis dari perusahaan pelat merah. Menurut dia, nantinya perusahaan BUMN akan ada yang berfokus ke bisnis dan ada juga yang berfokus menjalankan program pemerintah.

“Di Indonesia, public service itu penting, makanya kita mapping mana BUMN yang masuk dalam klaster bisnis banget, misal Telkomsel. Ada juga klaster yang harus berbisnis, tapi juga ada subsidi kayak PLN, Pertamina, dan Bank BRI yang ditugaskan KUR,” ucap dia. Bahkan, BUMN telekomunikasi ini sampai mengurusi masalah pendidikan dengan mendirikan perguruan tinggi swasta sendiri. Dia menyebut, urusan pendidikan harusnya biarlah diserahkan pada perguruan tinggi yang sudah ada baik negeri maupun swasta, sehingga BUMN fokus pada lini bisnis utamanya masing masing.

“Saya sedang review apa benar BUMN punya universitas universitas. Karena wong bersaing di bisnisnya saja belum tentu survive , apalagi jalankan sesuatu yang bukan expertise nya,” ucap Erick Thohir. Selain itu, lanjut Erick, dirinya juga tengah mengkaji universitas universitas milik perusahaan BUMN. Sebagai informasi, dari sekian banyak deretan kampus kampus milik BUMN, Telkom bisa dibilang perguruan tinggi yang paling komplit dan besar skalanya, baik jumlah jurusan maupun mahasiswanya.

Letak kampus yang didirikan Telkom berada di Kota Bandung. Dikenal lama sebagai STT Telkom, perguruan tinggi ini kini melakukan re branding menjadiTelkom Universityatau Tel U. Perguruan tinggi yang masuk jajaran kampus swasta elit ini dibangun sejak era Direktur Utama Telkom Cacuk Sudarijanto tahun 1990.

Saat ini Tel U yang dipimpin rektor Prof. Adiwijaya ini memiliki 800 dosen tenaga pengajar dengan jumlah mahasiswa sebanyak 28.789. Sebelumnya, Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengungkapkan, kalaupun ingin mencetak SDM unggul yang bisa dipakai perusahaan. Hal itu bisa kerjasamakan dengan perguruan tinggi yang sudah ada.

“Kerja sama saja dengan universitas, misalnya Pertamina dengan ITB atau PLN dengan IT . Supaya semua masuk ke core bisnis. Coba dipikirkan agar dikelola dengan baik biar lebih profesional,” kata Arya. Inilah penilaian untuk kinerja Menteri BUMN Erick Thohir dan Mendikbud Nadiem Makarim dalam masa pemerintahan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Maruf Amin. Seperti yang diketahui, abinet Indonesia Maju telah bekerja 100 hari pada hari Kamis (30/1/2020) kemarin.

Para menteri dinilai kinerjanya satu persatu. Begitu juga dengan Erick Thohir dan Nadiem Makarim. Begitu juga dengan Jokowi dan Maruf Amin.

Presiden Jokowi diketahui telah melantik para menterinya pada 23 Oktober 2019 lalu. Pengamat menilai kinerja Erick Thohir dan Nadiem Makarim sudah baik. Kendati demikian, terdapat kendala yang mengganjal keduanya dalam bekerja.

Di luar kendala tersebut, ide serta terobosan Nadiem dan Erick Thohir disebut memiliki kebaruan. Banyak terobosan baru yang dilakukan keduanya dalam pemerintahan Jokowi Jilid II ini. Tidak berasal dari partai politik, Nadiem dan Erick menjadi dua nama populer dalam kabiner Jokowi.

"Keduanya bisa membuat yang formal menjadi informal. Dari biasa menjadi luar biasa," ungkapnya. Namun, Agus menilai baik Nadiem maupun Erick mendapati faktor penghambat. "Dua menteri ini tidak didukung oleh substansi peraturan undang undang yang cukup," ungkapnya.

Sementara itu untukErick Thohir, Agus menyebut mantan bos Inter Milan memiliki gagasan baik untuk memperbaiki BUMN. "Sebagai orang yang memiliki track record cukup baik di dunia usaha, gagasan gagasan untuk memperbaiki BUMN sudah kelihatan," ucap Agus. Akan tetapi, Agus juga menyebut adanya kendala yang dimiliki Erick.

Menurut Agus, Erick tak memiliki teman. "Erick Thohir di BUMN gak punya teman. Saya melihat dia lonely ," ungkapnya. "Saya khawatir, ide ide dan terobosan terobosan akan hilang ditelan angin," lanjut Agus.

Orang orang seperti Erick di BUMN dianggap Agus terlalu sedikit. "Kalau pun ada beberapa teman teman yang semacam dia cuma sedikit, seperti Ahok misalnya," ungkapnya. Diketahui, permasalahan yang dihadapi Erick di BUMN terbilang pelik.

Mulai dari bongkar pasang BUMN, hingga dihadapkan permasalahan seperti kasus Garuda hingga Jiwasraya. Awal kepemimpinannya di BUMN, Erick langsung melakukan gebrakan melakukan 'bersih bersih' di tubuh BUMN. Dilansir Kompas.com , langkah pertama yang diambil Erick mencopot enam deputi dan satu sekertaris Kementerian BUMN di era Rini Soemarno.

Ketujuh orang tersebut, yakni Edwin Hidayat Abdullah, Hambra, Fajar Harry Sampurno, Wahyu Kuncoro, Aloysius Kiik Ro, Gatot Trihargo dan Imam Aprianto Putro. Langkah tersebut diambil Erick dalam rangka merampingkan struktur deputi di Kementerian BUMN. Untuk diketahui, di era Rini terdapat enam posisi deputi.

Sementara itu di era Erick memangkasnya menjadi hanya tiga orang deputi dan satu sekertaris kementerian. Kemudian salah satu keputusan yang banyak mendapat apresiasi ialah mengangkat Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menjadi Komisaris Utama Pertamina menggantikan Tanri Abeng. Selain mengangkat Ahok, Erick juga mengangkat mantan Dirut PT Telkomsel Emma Sri Martini sebagai Direktur Keuangan PT Pertamina.

Erick juga memasukan nama mantan pimpinan KPK Chandra Hamzah, Amin Sunaryadi, mantan Kepala Bekraf Triawan Munaf, mantan wakil Menteri ESDM Archandra Tahar, dan mantan Menteri Keuangan Chatib Basri ke jajaran komisaris utama di perusahaan BUMN. Nadiem, menurut Agus hingga kini belum didukung sebuah regulasi yang mapan untuk mewujudkan idenya. "MisalNadiem Makarimingin melakukan perubahan secara radikal di kurikulum pendidikan tinggi dan SMA, sampai hari ini belum didukung regulasi yang mapan, tapi inti perubahannya bagus," ungkap Agus.

Terbaru, Nadiem membuat kebijakan di dunia perguruan tinggi dengan program Kampus Merdeka. Satu poin di antaranya ialah mahasiswa S 1 dapat mengambil kegiatan di luar program studi (prodi) hingga tiga semester. Nantinya, mahasiswa akan bebas melakukan kegiatan antara lain magang atau praktik kerja industri, bergabung dengan organisasi nonprofit, pertukaran pelajar, pengabdian masyarakat, maupun riset.

Selain itu selama tiga semester mahasiswa juga dapat melakukan studi independen, terlibat dalam sebuah proyek desa, hingga mengajar di daerah terpencil. Mahasiswa juga diperkenankan melakukan kegiatan lain selama disetujui pihak prodi. Nadiem menyebut, kebijakan yang dibuatnya ini adalah yang paling penting dan akan berdampak langsung.

"Menurut saya, dari semua kebijakan, ini adalah yang paling penting. Karena dampaknya untuk negara kita, saya rasa bisa dirasakan secara cepat, secara riil, dan secara masif," ujar Nadiem saat Rapat Koordinasi Pendidikan Tinggi, di Kemendikbud, Jumat (24/1/2020) dilansir . Adanya kebijakan tersebut diharapkan mahasiswa memiliki kebebasan menentukan rangkaian pembelajaran mereka.

Nadiem menilai dengan hal tersebut dapat menciptakan adanya budaya belajar yang mandiri, lintas disiplin, dan mendapatkan pengetahuan serta pengalaman yang berharga untuk diterapkan. Namun, Nadiem mengungkapkan kebijakan ini bukanlah paksaan dan keharusan. Ini hanyalah opsi yang diberikan kepada mahasiswa S 1.

"Ini bukan pemaksaan. Kalau mahasiswa itu ingin seratus persen di dalam prodi itu, itu adalah hak mereka. Ini hanya opsinya untuk mahasiswa, tapi ini adalah suatu kewajiban bagi perguruan tinggi untuk memilih," ungkapnya.

You may also like

Leave a Comment