Home Corona Apa Saja wajib Diperhatikan dalam Evakuasi Tsunami di Masa New Normal

Apa Saja wajib Diperhatikan dalam Evakuasi Tsunami di Masa New Normal

by Nazira Khasanah

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Dwikorita Karnawati mengungkapkan sejumlah hal yang harus diperhatikan dalam proses evakuasi tsunami di masa pandemi covid 19 atau new normal. Berdasarkan panduan evakuasi tsunami di masa pandemi covid 19 yang dibuat bersama para pihak terkait yakni Gugus Tugas Covid 19, BNPB, BMKG, ITB, dan pihak lainnya Dwikorita menjelaskan hal yang paling utama adalah tetap menjaga jarak satu sampai satu setengah meter, tetap menggubakan masker, dan menjaga kebersihan selama proses evakuasi. Selain itu Dwikorita juga menjelaskan agar dalam proses evakuasi dilakukan pemisahan antara orang sehat dengan Pasien Dalam Pemantauan (PDP), Orang Dalam Pengawasan (ODP), dan Orang Tanpa Gejala (OTG).

Hal tersebut disampaikan Dwikorita dalam Webinar "Sosialisasi Panduan Evakuasi Tsunami di Masa Covid 19" yang diselenggarakan pada Jumat (5/6/2020). "Kemudian pasien itu kan memang ada yang sakit yang memang sedang dirawat, tetapi juga memang ada PDP, ODP, nah itu evakuasinya juga diatur juga, dipisahkan. PDP tentunya harus didampingi tenaga khusus yang menggunakan APD, ada tata caranya. Untuk ODP juga ada tata caranya. OTG juga perlu diwaspadai. Sehingga semua, prinsipnya harus dipisahkan evakuasinya antara orang sehat evakuasinya jangan dicampur dengan PDP dan ODP," kata Dwikorita. Tidak hanya itu Dwikorita juga menekankan pentingnya kejujuran masyarakat terkait kondisi kesehatan dirinya dan keluarga selama proses evakuasi.

"Jadi nomor satu tetap evakuasinya menjaga jarak kisaran satu sampai satu setengah meter, menggunakan masker, menjaga kebersihan, memisahkan orang sehat dengan tiga jenis pasien, kemudian kita harus jujur melaporkan kondisi diri dan keluarga terdekat kepada petugas," kata Dwikorita. Dwikorita juga menekankan pentingnya persiapan proses evakuasi tersebut sejak dini. Hal tersebut di antaranya termasuk pendataan rumah sakit rumah sakit yang berada di zona rawan tsunami dan menentukan langkah yang harus dilakukan oleh para pengambil kebijakan terkait para pasien di rumah sakit tersebut.

Selain itu Dwikorita juga mengungkapkan pentingnya menghitung kepadatan jalur evakuasi dan volume shelter pengungsi. "BNPB atau BPB tentunya sudah mulai mendata rumah sakit mana yang berada di zona merah dan mitigasi apa yang harus dilakukan dan tentunya sudah mulai menghitung kepadatan jalur evakuasi. Karena harus menjaga jarak kan tidak bisa berjejalan. Jadi volume untuk tempat shelter atau volume jalur evakuasi mohon BPBD untuk dicek ulang dengan memperhitungkan volume yang harus memakai dan bagaimana mengatur jaraknya," kata Dwikorita. Sebelumnya Dwikorita mengungkapkan memaparkan data BMKG yang menunjukan adanya peningkatan kejadian gempa secara eksponensial.

Dwikorita mengungkapkan tercatat peningkatan aktivitas kegempaan mulai terjadi di tahun 2017 yakni sebanyak 7.169 kali dengan magnitudo kurang dari lima sampai magnitudo lebih dari lima. Padahal menurutnya di tahun sebelumnya hanya tercatat di kisaran lima sampai enam ribu kali dengan jumlah sensor yang terpasang sama yakni 174. Kemudian Dwikorita mengungkapkan jumlah aktivitas kegempaan melonjak hingga 11.924 di tahun 2018.

"Dengan kondisi peralatan yang sama, 174 sensor yang terpasang sejak 2008, tetcatat pada 2018 kejadian gempa melinjak jadi 11.924. Jadi event event kegempaan ini meningkat secara eksponensial sebelum ada covid. Dan terakhir, data tahun 2019 angkanya masih berkisar 11 ribu kali dengan kondisi alat yang masih sama jumlahnya. Dari data tersebut, tahun 2018 kita mengalami tiga kali tsunami," kata Dwikorita.

You may also like

Leave a Comment