Home Corona A Lebih Berisiko Hasil Studi Benarkan Golongan Darah Tentukan Tingkat Keparahan Gejala Covid-19

A Lebih Berisiko Hasil Studi Benarkan Golongan Darah Tentukan Tingkat Keparahan Gejala Covid-19

by Nazira Khasanah

Golongan darah seseorang kemungkinan besar memiliki peran besar dalam tingkat keparahan gejala yang dialami pasien Covid 19. Analisis genetis pasien Covid 19 menunjukkan bahwa orang orang yang memiliki golongan darah O lebih terlindungi dari virus corona. Sebaliknya, orang dengan golongan darah A mungkin lebih berisiko komplikasi akibat virus corona.

Seperti yang dilansir news medical.net, tim peneliti di Eropa menemukan bahwa dua variasi genetik bisa menunjukkan siapa yang lebih berisiko sakit parah bahkan meninggal dunia akibat infeksi virus corona atau Covid 19. Selain itu, para ilmuwan juga menemukan adanya hubungan antara virus corona dengan golongan darah, menyatakan beberapa orang cenderung terpapar Covid 19. Hasil studi yang dipublikasikan itu menjelaskan mengapa beberapa orang bisa memiliki risiko tinggi terinfeksi dan mengalami gejala yang parah.

Dalam 3 studi yang berbeda, peneliti dari , dan beberapa juga menghasilkan temuan yang serupa. Patogenesis Covid 19 yang parah dan penyebab kegagalan pernapasan pada pasien virus corona masih belum jelas, tetapi tingkat kematian pada pasien usia dan laki laki, cukup tinggi. Lebih lanjut, orang memiliki masalah kesehatan yang mendasarinya lebih mungkin mengalami gejala Covid 19 yang lebih parah, termasuk hipertensi, diabetes, obesitas, dan penyakit kardiovaskular.

Peran relatif dari faktor risiko klinis dalam menentukan keparahan Covid 19 belum diklarifikasi. Kini, studi baru menggarisbawahi faktor predisposisi lain yang mungkin membuat beberapa orang rentan terhadap infeksi. Tim peneliti dari Eropa mempelajari lebih dari 1.900 pasien virus corona yang sakit parah di Spanyol dan Italia, dua negara yang paling parah terkena dampak pandemi.

Mereka membandingkan pasien dari tujuh rumah sakit dengan 2.300 orang yang tidak sakit. Secara keseluruhan, mereka menganalisis lebih dari 8 juta polimorfisme nukleotida tunggal dan melakukan analisis meta dari dua panel kontrol kasus. Tim menemukan bahwa sekelompok varian gen yang terlibat dengan respons imun lebih umum ada pada orang dengan Covid 19 yang parah.

Gen gen tersebut juga dikaitkan dengan protein permukaan sel yang dikenal sebagai angiotensin converting enzyme 2 (ACE2), yang digunakan virus corona untuk masuk dan menginfeksi sel sel dalam tubuh. Salah satu kelompok gen meningkatkan risiko terkena Covid 19 parah hingga 77 persen. Para peneliti percaya bahwa menemukan kluster gen ini dapat meningkatkan pengembangan vaksin baru dan terapi untuk penyakit Covid 19.

Para peneliti juga menemukan bahwa orang dengan golongan darah A memiliki peningkatan risiko 45 persen tertular virus corona. Golongan darah A juga lebih mungkin mengalami kegagalan pernapasan dibandingkan dengan orang dengan golongan darah lain. Di sisi lain, orang yang bergolongan darah O memiliki risiko 35 persen lebih rendah terkena penyakit Covid 19 yang parah.

Namun, belum jelas diketahui mengapa golongan darah dapat mempengaruhi kerentanan terhadap penyakit parah. Robert Glatter, seorang dokter pengobatan darurat di Lenox Hill Hospital di New York City, mencatat bahwa gen yang mengendalikan golongan darah mungkin memainkan peran dalam susunan permukaan sel. Perubahan struktur permukaan sel mungkin mempengaruhi kerentanan sel untuk terinfeksi oleh virus corona.

Tim menekankan bahwa temuan mereka mungkin perlu validasi dan investigasi lebih lanjut. Dengan cara ini, lebih banyak informasi dapat dikumpulkan tentang hubungan antara golongan darah dan tingkat keparahan penyakit Covid 19. Menurut data worldometers.info, hingga Sabtu, 20 Juni 2020 pukul 06.00 WIB, sudah ada 8.745.570 orang di dunia yang terinfeksi Covid 19.

461.760 di antaranya meninggal dunia dan 4.619.373 lainnya sembuh. Dari jumlah tersebut, Amerika Serikat memiliki jumlah kasus tertinggi yaitu 2.294.952, jauh melebihi China tempat virus corona bermula yang hanya 83.325 kasus. Sementara itu, Indonesia menduduki posisi 30 sebagai negara dengan jumlah kasus terbanyak.

You may also like

Leave a Comment